ISU-ISU TERKINI

Monday, October 17, 2011

KEPENTINGAN MEDIA PENGAJARAN


Tujuan Penggunaan Media Pengajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam pembelajaran membaca puisi. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah

(1) Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna,

(2) Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik,

(3) Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik,

(4) Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk
mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang
disampaikan oleh guru/ pendidik,

(5) Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.



Sedangkan Sudjana, dkk. (2002:2) menyatakan tentang tujuan pemanfaatan media adalah :

(1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menimbulkan motivasi,

(2) Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami,

(3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, dan

(4) Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar.



Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan penggunaan media adalah

(1) Efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar,

(2) Meningkatkan motivasi belajar siswa,

(3) Variasi metode pembelajaran, dan

(4) Peningkatan aktivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

MEDIA DALAM PENGAJARAN BAHASA MELAYU


Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar.
Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.
 Tujuan penggunaan media adalah efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa, variasi metode pembelajaran, dan peningkatan aktivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN


Pengertian Media Pembelajaran
Media Pembelajaran berasal dari dua buah kata yaitu Media dan Pembelajaran.. istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. [Akhmad sudrajat, 2008]. Sedangkan dalam bahasa Arab, media disebut  “Wasil” bentuk jamak dari “wasilah” yakni sinonim “Al-wats” yang artinya “Tengah”. [Yudhi Munadi, 2008, 6]. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media merupakan pengantar atau penghubung, yakni yang mengantarkan atau menghubungkan dan menyalurkan sesuatu hal dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
Istilah Pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berhasil jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya.
Pengertian mengenai media pembelajaran banyak sekali diungkapkan oleh para pakar pendidikan. Beberapa pakar menyebutkan diantaranya, [Akhmad Sudrajat, 2008]:
§         Menurut Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
§         Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
§         National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Dari buku yang pernah saya baca menjelaskan bahwa “media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif..” [Yudhi Munadi, 2008, 7-8].

B.     Manfaat Media Pembelajaran
Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi keberadaannya, karena dengan adanya media pembelajaran dapat memudahkan guru dalam proses pembelajaran yakni menyampaikan pesan-pesan atau meteri-materi pembelajaran kepada siswanya. Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang berfariasi. Peda satu sisi ada bahan pembelajaran yang tidak memerlikan media pembelajaran, tetapi disisi lain ada bahan pembelajaran yang memerlukan media pembelajaran. Materi pembelajaran yang mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu akan sukar dipahami oleh siswanya, apalagi oleh siswa yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disampaikan.
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah [Ardiani Mustikasari, 2008] :
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada. 
2.  Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
 5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung kepada seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.

MEDIA PEMBELAJARAN


Dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, misalnya dalam teknologi komunikasi dan informasi pada saat ini, media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses belajar dan bukan semata-mata sebagai alat bantu. Media pembelajaran memainkan peran yang cukup penting untuk mewujudkan kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam posisi seperti ini, penggunaan media pembelajaran dikaitkan dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media, yang mungkin tidak mampu dilakukan oleh guru (atau guru melakukannya kurang efisien). Dengan kehadiran media pembelajaran maka posisi guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator. Bahkan pada saat ini media telah diyakini memiliki posisi sebagai sumber belajar yang menyangkut keseluruhan lingkungan di sekitar pebelajar.
Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (kongkret) berdasarkan kenyataan yang ada di lingkungan hidupnya, kemudian melalui benda-benda tiruan, dan selanjutnya sampai kepada lambang-lambang verbal (abstrak). Untuk kondisi seperti inilah kehadiran media pembelajaran sangat bermanfaat. Dalam posisinya yang sedemikian rupa, media akan dapat merangsang keterlibatan beberapa alat indera.

MEDIA PENGAJARAN


Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. media yang digunakan memiliki posisi sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids). Misalnya alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual atau verbal. Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Karena dianggap sebagai alat bantu, guru atau orang yang membuat media tersebut kurang memperhatikan aspek disainnya, pengembangan pembelajarannya, dan evaluasinya.

TUJUAN PENGGUNAAN MEDIA DALAM INSTRUKSI DAN PEMBELAJARAN


Tujuan Media Pembelajaran
Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan. Menurut Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah [Akhmad Sudrajat, 2008]:
a.        Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan   tepat guna dan berdaya guna,
b.      Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik.
c.       Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik.
d.      Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.
e.       Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.

Thursday, October 13, 2011

CERPEN: MANA MAMA




Mana Mak?'

Jam 6.30 petang.

Mak berdiri di depan pintu. Wajah Mak kelihatan resah. Mak tunggu adik bungsu balik dari sekolah agama.

Ayah baru balik dari sawah.

Ayah tanya Mak, “Along mana?’

Mak jawab, “Ada di dapur tolong siapkan makan.”

Ayah tanya Mak lagi,” Angah mana?”

Mak jawab, “Angah mandi, baru balik main bola.”

Ayah tanya Mak, “Ateh mana?”

Mak jawab, “Ateh, Kak Cik tengok tv dengan Alang di dalam?”

Ayah tanya lagi, “Adik dah balik?”

Mak jawab, “Belum. Patutnya dah balik. Basikal adik rosak kot. Kejap lagi kalau tak balik juga jom kita pergi cari Adik.”

Mak jawab soalan ayah penuh yakin. Tiap-tiap hari ayah tanya soalan yang sama. Mak jawab penuh perhatian. Mak ambil berat di mana anak-anak Mak dan bagaimana keadaan anak-anak Mak setiap masa dan setiap ketika.

Dua puluh tahun kemudian

Jam 6.30 petang

Ayah balik ke rumah. Baju ayah basah. Hujan turun sejak tengahari.

Ayah tanya Along, “Mana Mak?”

Along sedang membelek-belek baju barunya. Along jawab, “Tak tahu.”

Ayah tanya Angah, “Mana Mak?”

Angah menonton tv. Angah jawab, “Mana Angah tahu.”

Ayah tanya Ateh, “Mana Mak?”

Ayah menunggu lama jawapan dari Ateh yang asyik membaca majalah.

Ayah tanya Ateh lagi, "Mana Mak?"

Ateh menjawab, “Entah.”

Ateh terus membaca majalah tanpa menoleh kepada Ayah.

Ayah tanya Alang, “Mana Mak?”

Alang tidak jawab. Alang hanya mengoncang bahu tanda tidak tahu.


Ayah tidak mahu tanya Kak Cik dan Adik yang sedang melayan facebook. Ayah tahu yang Ayah tidak akan dapat jawapan yang ayah mahu.

Tidak ada siapa tahu di mana Mak. Tidak ada siapa merasa ingin tahu di mana Mak. Mata dan hati anak-anak Mak tidak pada Mak. Hanya mata dan hati Ayah yang mencari-cari di mana Mak.

Tidak ada anak-anak Mak yang tahu setiap kali ayah bertanya, "Mana Mak?"

Tiba-tiba adik bungsu bersuara, “Mak ni dah senja-senja pun merayap lagi. Tak reti nak balik!!”

Tersentap hati Ayah mendengar kata-kata Adik.

Dulu anak-anak Mak akan berlari mendakap Mak apabila balik dari sekolah. Mereka akan tanya "Mana Mak?" apabila Mak tidak menunggu mereka di depan pintu.

Mereka akan tanya, "Mana Mak." Apabila dapat nombor 1 atau kaki melecet main bola di padang sekolah. Mak resah apabila anak-anak Mak lambat balik. Mak mahu tahu di mana semua anak-anaknya berada setiap waktu dan setiap ketika.

Sekarang anak-anak sudah besar. Sudah lama anak-anak Mak tidak bertanya 'Mana Mak?"

Semakin anak-anak Mak besar, soalan "Mana Mak?" semakin hilang dari bibir anak-anak Mak .

Ayah berdiri di depan pintu menunggu Mak. Ayah resah menunggu Mak kerana sudah senja sebegini Mak masih belum balik. Ayah risau kerana sejak akhir-akhir ini Mak selalu mengadu sakit lutut.

Dari jauh kelihatan sosok Mak berjalan memakai payung yang sudah uzur. Besi-besi payung tercacak keluar dari kainnya. Hujan masih belum berhenti. Mak menjinjit dua bungkusan plastik. Sudah kebiasaan bagi Mak, Mak akan bawa sesuatu untuk anak-anak Mak apabila pulang dari berjalan.

Sampai di halaman rumah Mak berhenti di depan deretan kereta anak-anak Mak. Mak buangkan daun-daun yang mengotori kereta anak-anak Mak. Mak usap bahagian depan kereta Ateh perlahan-lahan. Mak rasakan seperti mengusap kepala Ateh waktu Ateh kecil. Mak senyum. Kedua bibir Mak diketap repat. Senyum tertahan, hanya Ayah yang faham. Sekarang Mak tidak dapat lagi merasa mengusap kepala anak-anak seperti masa anak-anak Mak kecil dulu. Mereka sudah besar. Mak takut anak Mak akan menepis tangan Mak kalau Mak lakukannya.

Lima buah kereta milik anak-anak Mak berdiri megah. Kereta Ateh paling gah. Mak tidak tahu pun apa kehebatan kereta Ateh itu. Mak cuma suka warnanya. Kereta warna merah bata, warna kesukaan Mak. Mak belum merasa naik kereta anak Mak yang ini.

Baju mak basah kena hujan. Ayah tutupkan payung mak. Mak bagi salam. Salam Mak tidak berjawab. Terketar-ketar lutut Mak melangkah anak tangga. Ayah pimpin Mak masuk ke rumah. Lutut Mak sakit lagi.

Mak letakkan bungkusan di atas meja. Sebungkus rebung dan sebungkus kueh koci pemberian Mak Uda untuk anak-anak Mak. Mak Uda tahu anak-anak Mak suka makan kueh koci dan Mak malu untuk meminta untuk bawa balik. Namun raut wajah Mak sudah cukup membuat Mak Uda faham.

Semasa menerima bungkusan kueh koci dari Mak Uda tadi, Mak sempat berkata kepada Mak Uda, "Wah berebutlah budak-budak tu nanti nampak kueh koci kamu ni."

Sekurang-kurangnya itulah bayangan Mak. Mak bayangkan anak-anak Mak sedang gembira menikmati kueh koci sebagimana masa anak-anak Mak kecil dulu. Mereka berebut dan Mak jadi hakim pembuat keputusan muktamat. Sering kali Mak akan beri bahagian Mak supaya anak-anak Mak puas makan. Bayangan itu sering singgah di kepala Mak.

Ayah suruh Mak tukar baju yang basah itu. Mak akur.

Selepas Mak tukar baju, Ayah iring Mak ke dapur. Mak ajak anak-anak Mak makan kueh koci. Tidak seorang pun yang menoleh kepada Mak. Mata dan hati anak-anak Mak sudah bukan pada Mak lagi.

Mak hanya tunduk, akur dengan keadaan.

Ayah tahu Mak sudah tidak boleh mengharapkan anak-anak melompat-lompat gembira dan berlari mendakapnya seperti dulu.

Ayah temankan Mak makan. Mak menyuap nasi perlahan-lahan, masih mengharapkan anak-anak Mak akan makan bersama. Setiap hari Mak berharap begitu. Hanya Ayah yang duduk bersama Mak di meja makan setiap malam.

Ayah tahu Mak penat sebab berjalan jauh. Siang tadi Mak pergi ke rumah Mak Uda di kampung seberang untuk mencari rebung. Mak hendak masak rebung masak lemak cili api dengan ikan masin kesukaan anak-anak Mak.

Ayah tanya Mak kenapa Mak tidak telepon suruh anak-anak jemput. Mak jawab, "Saya dah suruh Uda telepon budak-budak ni tadi. Tapi Uda kata semua tak berangkat."

Mak minta Mak Uda telepon anak-anak yang Mak tidak boleh berjalan balik sebab hujan. Lutut Mak akan sakit kalau sejuk. Ada sedikit harapan di hati Mak agar salah seorang anak Mak akan menjemput Mak dengan kereta. Mak teringin kalau Ateh yang datang menjemput Mak dengan kereta barunya. Tidak ada siapa yang datang jemput Mak.

Mak tahu anak-anak mak tidak sedar telepon berbunyi. Mak ingat kata-kata ayah, “Kita tak usah susahkan anak-anak. Selagi kita mampu kita buat saja sendiri apa-apa pun. Mereka ada kehidupan masing-masing. Tak payah sedih-sedih. Maafkan sajalah anak-anak kita. Tak apalah kalau tak merasa menaiki kereta mereka sekarang. Nanti kalau kita mati kita masih ada peluang merasa anak-anak mengangkat kita kat bahu mereka.”

Mak faham buah hati Mak semua sudah besar. Along dan Angah sudah beristeri. Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik masing-masing sudah punya buah hati sendiri yang sudah mengambil tempat Mak di hati anak-anak Mak.

Pada suapan terakhir, setitik air mata Mak jatuh ke pinggan.

Kueh koci masih belum diusik oleh anak-anak Mak.

Beberapa tahun kemudian

Mak Uda tanya Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik, “Mana mak?”.

Hanya Adik yang jawab, “Mak dah tak ada.”

Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik tidak sempat melihat Mak waktu Mak sakit.

Kini Mak sudah berada di sisi Tuhannya bukan di sisi anak-anak Mak lagi.

Dalam isakan tangis, Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik menerpa kubur Mak. Hanya batu nisan yang berdiri terpacak. Batu nisan Mak tidak boleh bersuara. Batu nisan tidak ada tangan macam tangan Mak yang selalu memeluk erat anak-anaknya apabila anak-anak datang menerpa Mak semasa anak-anak Mak kecil dulu.

Mak pergi semasa Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik berada jauh di bandar. Kata Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik mereka tidak dengar handphone berbunyi semasa ayah telepon untuk beritahu mak sakit tenat.

Mak faham, mata dan telinga anak-anak Mak adalah untuk orang lain bukan untuk Mak.

Hati anak-anak Mak bukan milik Mak lagi. Hanya hati Mak yang tidak pernah diberikan kepada sesiapa, hanya untuk anak-anak Mak..

Mak tidak sempat merasa diangkat di atas bahu anak-anak Mak. Hanya bahu ayah yang sempat mengangkat jenazah Mak dalam hujan renyai.

Ayah sedih sebab tiada lagi suara Mak yang akan menjawab soalan Ayah,

"Mana Along?" , "Mana Angah?", "Mana Ateh?", "Mana Alang?", "Mana Kak Cik?" atau "Mana Adik?". Hanya Mak saja yang rajin menjawab soalan ayah itu dan jawapan Mak memang tidak pernah silap. Mak sentiasa yakin dengan jawapannya sebab mak ambil tahu di mana anak-anaknya berada pada setiap waktu dan setiap ketika. Anak-anak Mak sentiasa di hati Mak tetapi hati anak-anak Mak ada orang lain yang mengisinya.

Ayah sedih. Di tepi kubur Mak, Ayah bermonolog sendiri, "Mulai hari ini tidak perlu bertanya lagi kepada Along, Angah, Ateh, Alang, Kak Cik dan Adik , "Mana mak?" "

Kereta merah Ateh bergerak perlahan membawa Ayah pulang. Along, Angah, Alang dan Adik mengikut dari belakang. Hati ayah hancur teringat hajat Mak untuk naik kereta merah Ateh tidak kesampaian. Ayah terbayang kata-kata Mak malam itu, "Cantiknya kereta Ateh, kan Bang? Besok-besok Ateh bawalah kita jalan-jalan kat Kuala Lumpur tu. Saya akan buat kueh koci buat bekal."

"Ayah, ayah....bangun." Suara Ateh memanggil ayah. Ayah pengsan sewaktu turun dari kereta Ateh..

Terketar-ketar ayah bersuara, "Mana Mak?"

Ayah tidak mampu berhenti menanya soalan itu. Sudah 10 tahun Mak pergi namun soalan "Mana Mak?" masih sering keluar dari mulut Ayah sehingga ke akhir usia.


Monday, October 10, 2011

KARANGAN RANGSANGAN PMR: USAHA-USAHA MEWUJUDKAN PERPADUAN KAUM


CONTOH 3-HASIL PENULISAN PELAJAR(KARANGAN RANGSANGAN)
Lihat gambar di bawah dengan teliti. Huraikan pendapat anda tentang usaha-usaha mewujudkan perpaduan kaum antara rakyat di negara kita.

 #GAMBAR TENTANG PELBAGAI KAUM DI MALAYSIA#

Sejak kebelakangan ini,perpaduan antara kaum di negara kita semakin renggang. Apakah usaha-usaha yang boleh dilakukan untuk mewujudkan perpaduan dalam kalangan masyarakat di negara ini?


Antara usaha untuk mewujudkan perpaduan adalah dengan mengamalkan sikap saling menghormati antara kaum.Tamsilnya,rakyat yang berlainan kaum mestilah menghormati adat kaum yang lain.Natijahnya,hal ini akan mewujudkan persefahaman antara mereka.


Selain itu,dengan menghayati Rukun Negara,perpaduan kaum akan dapat diwujudkan.Tamsilnya,Rukun Negara yang kelima menjelaskan bahawa rakyat Malaysia perlu bersopan dan bertatasusila.Dengan berpaksikan Rukun Negara ini,maka perpaduan akan dapat diwujudkan.


Usaha yang seterusnya adalah dengan membanyakkan lagi sekolah kebangsaan.Sebagai contoh, sekolah menengah dan sekolah rendah kebangsaan perlu dibanyakkan di kawasan majoriti penduduknya berbilang kaum.Hal ini secara tidak langsung memupuk semangat perpaduan kerana mereka belajar di bawah satu bumbung yang sama.


Konklusinya,terdapat pelbagai usaha untuk mewujudkan perpaduan dalam kalangan rakyat Malaysia.Caranya,dengan memahami dan bergaul mesra sesama manusia tidak kira bangsa mahupun agama.

FAEDAH MELANCONG KEPADA KITA (KARANGAN RANGSANGAN PMR )


CONTOH (KARANGAN RANGSANGAN)

Lihat gambar di bawah dengan teliti. Huraikan pendapat anda tentang faedah melancong kepada kita.

#GAMBAR TENTANG PELANCONGAN#

Dewasa ini, terdapat banyak destinasi yang menarik untuk dilawati di negara kita. Namun begitu, terdapat segelintir masyarakat yang kurang arif mengenai kebaikan yang akan mereka perolehi sekiranya mereka pergi melancong.

Antara faedah melancong ialah kita boleh merapatkan hubungan sesama ahli keluarga.Tamsilnya, kita boleh mengadakan percutian keluarga di kawasan peranginan seperti di Cameron Highland, Genting Highland dan sebagainya. Impaknya, institusi kekeluargaan akan bertambah kukuh.

Selain itu, melalui aktiviti ini juga, kita dapat meningkatkan ilmu Geografi khususnya kepada para pelajar.Impaknya, kita akan lebih mengetahui kedudukan dan latar masyarakat sesuatu tempat pelancongan.

Bukan itu sahaja, aktiviti melancong juga berupaya merehatkan minda kita dari memikirkan soal pekerjaan semata-mata. Sebagai contoh, kita dapat menenangkan fikiran dengan bersantai di tepi pantai sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Konklusinya, masyarakat perlulah diberitahu akan kebaikan melancong. Hal ini kerana aktiviti ini ternyata mendatangkan impak yang positif kepada kehidupan mereka.

ARAS TAKSONOMI BLOOM DAN KEMAHIRAN


Aras Taksonomi dan Kemahiran
Kata Kunci  Perlakuan dalam Hasil Pembelajaran
Pengetahuan
(Mengingat kembali data dan maklumat)
Mendefinisikan, mengenal pasti, menyenaraikan, melabel, menamakan, menyebut, menulis semula, menyatakan, menggalurkan
Kefahaman
(Keupayaan menangkap maksud sesuatu)
Menghuraikan, membincangkan, menerangkan, menulis semula dalam bentuk lain (memparafrasa),  membezakan, melanjutkan, memberi contoh yang mudah, menterjemahkan
Aplikasi
(Keupayaan  menggunakan perkara yang diajar dalam situasi baharu dan nyata)
Menggunakan, mengubah, menunjuk cara, meminda, mengendalikan, menghubungkaitkan, menemui, mengubah suai, menyediakan, menyelesaikan.
Analisis 
(Keupayaan mencerakinkan sesuatu dalam komponennya supaya mudah difahami)
Mencerakin, mengkategori, mengasingkan, memilih, membezakan, menjelaskan dengan contoh, membahagikan, menggariskan
Sintesis
(Kebolehan mencantumkan bahagian-bahagian untuk menjadikannya bentuk yang sempurna)
Menggabungkan, menggubah (bunga), mereka cipta, mereka bentuk, merancang, mengumpulkan, mengelolakan, merumuskan, mengesyorkan, mencadangkan
Penilaian
(Kebolehan menghakimi/ menilai)
Menilai, menyimpulkan, mengupas, membuat justifikasi, , menunjukkan perbezaan, membezakan, mentafsir, menghubungkan, menyokong, memilih

CONTOH JURNAL REFLEKSI PENGAJARAN


Saya masuk ke kelas 2 Bestari dengan penuh yakin. Segala yang hendak diajarkan pada hari ini sudah dirancang secukupnya. Saya penuh yakin pengajaran pada hari ini dapat berlangsung dengan baik. Saya mengaplikasikan Model Pengajaran Secara Langsung. Sebelum memulakan pengajajaran saya memastikan semua pelajar dalam keadaan sihat dan menyuruh mereka mengutip sampah terlebih dahulu.
            Ini merupakan pengajaran saya yang pertama untuk kelas 2 Bestari. Semasa pengajaran berlangsung saya menggunakan teknik 5W 1H. Apa yang menguji kesabaran saya ialah saya dapati pelajar membuat bising, tidak menumpukan perhatian dan sembang dengan rakan mereka. Kelas ini adalah kelas sederhana, yakni pelajarnya agak nakal, aktif, dan pasif.
            Saya terpanggil untuk menimbulkan suasana pembelajaran yang seimbang di mana setiap pelajar harus bercakap dan memberi pendapat. Oleh itu, saya nekad untuk bertanya kepada setiap pelajar. Pelbagai soalan timbul dalam fikiran  saya. Adakah pengajaran saya terlalu cepat sehingga pelajar tidak dapat mengikutinya? Adakah pelajar bosan terhadap pengajaran saya?
            Saya sedar, bahawa pelajar tingkatan 2 Bestari malas berfikir untuk mencari maksud setiap rangkap pantun. Saya perhatikan mereka hanya bergantung kepada guru, yakni berpusatkan guru.
            Pada minggu hadapan, jika saya akan mengajarkan maksud pantun yang berikutnya. Saya akan mengambil masa yang lebih untuk mengajar mereka cara mencari maksud setiap rangkap pantun dan saya akan sentiasa bertanya kepada mereka agar mereka memerah otak untuk berfikir. Saya berharap dengan cara ini pelajar dapat memberi pendapat dalam perbincangan walaupun kurang tepat.